Eddy Harto, Pahlawan Tim nasional Indonesia Di SEA Games 1991

0
7
eddy-harto-dari-stadion-kebun-bunga-jadi-pahlawan-timnas-indonesia-di-sea-games-1991
- Advertisement -
RAJAOLB388

Eddy Harto, Pahlawan Tim nasional Indonesia Di SEA Games 1991 Figur Eddy Harto patut masuk ke daftar penjaga gawang legendaris Tim nasional Indonesia. Eddy Harto, Pahlawan Tim nasional Indonesia Di SEA Games 1991, Perolehan terbaik bersama-sama tim Garuda ialah mendapatkan emas cabang sepak bola di SEA Games 1991 Filipina.

Di tempat itu, dia jadi pahlawan sesudah pada pertandingan final yang berjalan di Rizal Memorial Fase, Manila, Indonesia menaklukkan Thailand lewat beradu penalti dengan score 4-3. Kemenangan Indonesia dipastikan oleh tindakan heroik Eddy memblok sepakan penalti Pairote Pongjan.

Buat Eddy, sukses persembahkan medali emas buat Indonesia itu adalah buah dari perjalanan panjangnya menekuni sepak bola semenjak umur belasan tahun. Dimana, dia memulainya dengan posisi pemain yang tidak terbina oleh sekolah sepak bola seperti saat ini.

“Dahulu, kita kesusahan cari club. Ditambah lagi belumlah ada sekolah sepak bola seperti saat ini. Jadi, kekuatan kami diasah dari latihan di atas lapangan kampung,” ingat Eddy.

Keberuntungan Eddy di sepak bola mulai terbuka saat dianya mendapatkan info PSMS Medan Junior mengadakan seleksi untuk ikuti Piala Soeratin 1980.

Waktu itu, ada 12 penjaga gawang yang ikuti seleksi termasuk juga Eddy serta Benny van Breukelen yang selanjutnya dipilih masuk team. Sesudah mendapatkan ticket ke putaran nasional, PSMS pada akhirnya mendapatkan juara diperputaran nasional.

“Jadi sisi dari PSMS walau di level junior jadi kebanggaan tertentu untuk saya. Dahulu, jangankan masuk team. Dapat turut berlatih di Stadion Kebun Bunga saja telah luarbiasa untuk saya,” tutur Eddy Harto dalam kanal YouTube Tik Tidak Football First.

Stadion Kebun Bunga

Stadion Kebun Bunga adalah kawah candradimuka beberapa pemain paling baik Medan. Dalam tempat itu sering jadi tempat pertandingan internal PSMS, khususnya di masa Perserikatan.

- Advertisement -
RAJAOLB388

Sepulang dari Piala Soeratin, Eddy mendapatkan panggilan ikuti pemfokusan latihan timnas junior yang akan ikuti tempat internasional di Filipina. Posisi tim Garuda jadi pembuka jalan buat Eddy meniti karier di level atas. Dia disodori manajemen Arseto Solo, club elit Liga sepak bola Penting (Galatama) pada 1981.

“Saya tidak langsung memperoleh menit bermain yang banyak. Tetapi, tidak masalah sebab umur saya masih 19 tahun,” kata Eddy.

Eddy juga masih konsentrasi pada mimpinya dengan ikuti program latihan di Arseto dengan semangat. Akhirnya, perlahan tetapi tentu, dia mulai mendapatkan keyakinan menjaga gawang club asal Kota Solo itu.

Karena laganya itu, nama Eddy masuk ke team Liga Selection yang disebut kombinasi pemain paling baik pertandingan Galatama pada 1983. Dia dipilih dalam tim timnas Indonesia di tahun yang serupa.Saat menguatkan Liga Selection, Eddy memperoleh pengalaman manis serta pahit. Dia jadi sisi team waktu hadapi Brasil All Star di Stadion Gelanggang olahraga Bung Karno.

“Pada pertandingan itu, Brasil All Star diperkokoh tiga pemain tim nasional yang bermain di Piala Dunia 1982. Satu salah satunya ialah Eder. Di pertandingan itu juga, saya mendapatkan luka di pergelangan tangan yang membuat saya harus istirahat semasa 2 tahun,” papar Eddy.

Sesudah sembuh, Eddy coba keberuntungan dengan melamar ke club Galatama yang lain, Krama Yudha Tiga Berlian.

“Saya yang tawarkan diri. Saya katakan, silahkan lihat kekuatan saya semasa tiga bulan. Tetapi, baru sebulan, saya telah mendapatkan kontrak permanen.”

Masuk di Krama Yudha membuat profesi Eddy untuk pemain semakin cemerlang. Dia jadi berlangganan Tim nasional Indonesia. Salah satunya masuk tim Pra Piala Dunia 1990. Puncaknya pada 1991, dia jadi pahlawan tim nasional Indonesia di SEA Games Filipina.

Meniti karier Jadi Pelatih Penjaga gawang

Sesudah menggantung sepatu, Eddy berubah jadi pelatih penjaga gawang. Semenjak tahun 2000, dia jadi lapangan pelatih penjaga gawang tim nasional dari level junior sampai senior.

Paling akhir dia jadi sisi dari scuad Garuda pada Piala AFF 2014. Kemudian, dia pernah mangkir semasa empat tahun. Baru pada 2019, dia mengatasi team junior Bali United.

Sekarang, dia tertera untuk sisi dari team kepelatihan Persiraja Banda Aceh di Liga 1 2020.Walau pernah mengatasi penjaga gawang tim nasional, Eddy baru mendapatkan peluang ikuti pelatihan kepelatihan spesial penjaga gawang pada 2020.

“Perubahan pengetahuan kepelatihan terus berubah. Itu kenapa saya akui menyesal mengapa baru saat ini turut pelatihan,” kata Eddy.

Menurut Eddy, untuk melahirkan seorang penjaga gawang memang lebih bagus jika dilatih oleh bekas penjaga gawang . Minimum, beberapa penjaga gawang muda memperoleh tehnik fundamen serta input dari pelatihnya.

“Tempat penjaga gawang itu detil. Karena itu perlu perlakuan spesial,” tegas Eddy.

Di kesempatan itu, Eddy dengan cara spesial memberikan animo pada pelatih sekolah sepakbola (SSB).

“Tidak mudah membina pemain dari level fundamen. Perlu kesabaran yang tinggi. Karenanya, peranan serta suport orang-tua pemain penting. Pokoknya, dalam sepakbola tidak ada yang instant,” tandas Eddy.

- Advertisement -
RAJAOLB388 BCA368 BCAPLAY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here